Sejarah Biola di Eropa (Cremona)
Violin pertama muncul ke permukaan di Italia bagian utara pada awal abad ke-16. Violin diduga mengadopsi tiga macam instrumen: rebec, yang digunakan sejak abad ke-10 (diadopsi dari rebab [Arab]), Renaissance fiddle , dan lira da braccio. Deskripsi cukup detil dari violin beserta penalaannya diperkenalkan pertama kali oleh Jambe de Fer di Lyons pada tahun 1556. Sejak saat itu, violin mulai dikenal di seantero Eropa.
Violin yang bentuknya dikenal hingga sekarang diciptakan pertama kali oleh Andrea Amati di pertengahan abad ke-16 atas permintaan keluarga Medici . Keluarga tersebut meminta Amati untuk menciptakan instrumen yang mampu dimainkan oleh musisi jalanan, namun berkualitas setara dengan lute , instrumen yang populer di kalangan bangsawan kala itu. Amati, yang pada zamannya dikenal sebagai luthier (pembuat lute) yang mahir, memutuskan untuk menciptakan instrumen yang mampu menghasilkan suara yang lebih indah dari alat musik manapun pada zaman tersebut. Hasilnya, violin menjadi sangat populer. Dari awalnya ditujukan bagi musisi jalanan, menjadi instrumen yang juga diminati kalangan bangsawan. Fakta tersebut diketahui ketika Raja Prancis, Charles IX meminta Amati untuk membuat violin dengan jumlah yang cukup untuk membangun sebuah orkestra.
Busur (bow) modern untuk violin disempurnakan oleh François Tourte (1774-1835). Tourte menyimpulkan bahwa pernambuco adalah bahan terbaik yang bisa memberikan berat, kekuatan dan elastisitas yang ideal bagi busur. Pernambuco sendiri adalah sejenis kayu yang biasa dipakai untuk pewarna dan banyak ditemukan di negara bagian Pernambuco, Brasil. Lewat saran beberapa virtuoso violin seperti Viotti, Kreuzer, dan Rode, Tourte membuat standar panjang busur yang baik bagi violin adalah 74 atau 75 cm, viola 74 cm, dan cello 72-73 cm.
2. Luthier
Walaupun pada awalnya luthier merupakan sebutan yang terbatas bagi pembuat lute, namun akhirnya pembuat violin juga mendapat sebutan serupa. Dalam sejarah penciptaan violin, terdapat tiga luthier yang secara turun temurun berjaya menciptakan violin yang berkualitas:
a. Amati
Keluarga ini adalah luthier dari Italia, yang berkembang di kawasan Cremona dari tahun 1550 hingga 1740. Andrea Amati (1500 - 1577) adalah pembuat violin pertama yang kemudian mewariskan kemampuannya tersebut pada kedua anaknya: Antonio Amati (lahir 1540) dan Girolamo Amati (1561-1630). Amati bersaudara kemudian menciptakan banyak inovasi baru tentang desain violin, termasuk penyempurnaan bentuk soundhole violin yang terkenal. Mereka juga menjadi pionir dalam pembuatan viola yang bersuara alto.
Niccolo Amati (3 September 1596 – 12 Agustus 1684) yang merupakan anak dari Girolamo Amati mengembangkan model yang telah dibuat oleh para pendahulunya, sehingga menghasilkan suara yang lebih kuat. Modelnya ini terkenal dengan sebutan “Grand Amatis”. Murid-murid Nicolo yaitu Antonio Stradivari dan Andrea Guarneri kelak menjadi luthier handal yang terkenal hingga saat ini.
Dinasti Amati tidak bertahan lama setelah meninggalnya anak dari Niccolo, Girolamo Amati, yang dikenal dengan nama Hieronymous II di tahun 1740. Kendati ia juga mewarisi bakat luthier ayahnya, model violin Hieronymous II sudah mampu ditandingi oleh Antonio Stradivari. Meninggalnya Hieronymous II adalah pertanda berakhirnya dominasi keluarga Amati, dan dimulainya Dinasti Stradivarius.
b. Stradivarius
Walaupun model ini ini juga dijalankan secara turun temurun, namun dinasti ini hanya mencatat satu nama dominan, yaitu sang pencetus, Antonio Stradivari (1644-1737). Antonio menciptakan violin yang kemudian dinamai dengan “Stradivarius” (bahasa latin dari Stradivari) dan biasa disingkat dengan “Strad”. Anak dari pasangan Alessandro Stradivari dan Anna Moroni yang lahir di Cremona ini bekerja pada perusahaan Amati di sekitar tahun 1667 hingga 1679.
Di tahun 1680, Antonio mendirikan perusahaannya sendiri di Piazza San Domenico, dan ketenarannya sebagai luthier mulai mencuat. Ia selalu berusaha menunjukkan orisinalitas dan meninggalkan pengaruh model Amati sedikit demi sedikit. Perubahan –atau lebih tepatnya perombakan- yang dilakukan Antonio pada fingerboard, neck, bass bar, urutan pengeleman, bahkan hingga vernis yang lebih indah, menjadikan violin semakin diposisikan sebagai instrumen yang nyaris sempurna. Teknik Stradivarius menjadi dasar pembuatan violin bagi para luthier hingga sekarang.
Violin Stradivarius yang orisinil diciptakan oleh Antonio dapat dikenali dengan tulisan dalam bahasa latin: Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno ….. (artinya: Antonio Stradivari, Cremona, dibuat pada tahun …. ). Stradivarius dengan suara yang paling dahsyat dibuat antara tahun 1698 hingga 1730 ketika Stradivari berada dalam masa produktif (golden age). Setelah tahun 1730, Stradivarius diteruskan oleh generasi berikutnya, yaitu anak dari Antonio, Omobono dan Francesco.
Selain violin, Stradivarius juga memproduksi gitar, harpa, viola dan cello. Dari 1100 instrumen yang pernah diproduksi Strad, 650 diantaranya masih bertahan hingga sekarang. Rekor terbaru penjualan Strad dicatat di tahun 2005 kemarin, “The Lady Tennant” buatan tahun 1699 terjual seharga US$ 2,032,000! Virtuoso violin Itzhak Perlman adalah salah satu pemakai setia Strad (Soil Strad – 1714), selain cellis Yo-Yo Ma yang menggunakan Davidov Strad. Antonio Stradivari meninggal di Cremona, Italia, pada 18 Desember, 1737 dan dimakamkan di Basilica of San Domenico, Cremona.
c. Guarneri
Seperti luthier-luthier hebat lainnya, keluarga Guarneri berasal dari Cremona, Italy pada abad ke-17 dan 18. Andrea Guarneri (1626-1698), generasi pembuat violin pertama dari keluarga ini awalnya bekerja untuk Nicolo Amati dari sejak 1641 hingga 1646. Setelah sempat berhenti, Guarneri kembali bekerja pada Amati dari tahun 1650 hingga 1654. Instrumen buatan Guarneri awalnya banyak meniru model “Grand Amatis” yang mahsyur diciptakan oleh Nicolo Amati, sebelum akhirnya Guarneri menciptakan ciri khasnya tersendiri. Andrea saat itu lebih pintar membuat viola yang baik, salah satunya dipakai oleh William Primrose.
Setelah Andrea meninggal, dua anaknya meneruskan bakat ayahnya. Pietro Giovanni Guarneri (18 Februari 1655 – 26 Maret 1720) yang dikenal dengan Peter of Mantua (Pietro da Mantova) -untuk membedakannya dengan kemenakannya, Pietro Guarneri- bekerja pada bengkel ayahnya dari sekitar 1670 hingga ia menikah di tahun 1677. Peter of Mantua yang juga seorang musisi itu mampu membuat violin yang lebih baik dari ayahnya. Joseph Szigeti adalah salah satu pemain yang memakai violin buatannya.
Anak bungsu Andrea, Giuseppe Giovanni Battista Guarneri (25 November 1666- 1739/1740) mewarisi bisnis ayahnya pada tahun 1698. Ia dikenal mampu membuat violin yang baik, walaupun saat itu itu harus bersaing ketat dengan Stradivarius. Giuseppe kemudian mewariskan bakatnya pada dua anaknya, Pietro Guarneri (14 April 1695 – 7 April 1762) dan Giuseppe Guarneri (21 Agustus 1698 – 17 Oktober 1744). Nama yang terakhir inilah yang kemudian sangat diperhitungkan dalam dunia violin. Giuseppe yang terkenal dengan labelnya yang bertulisnya I.H.S (iota-eta-sigma) dan salib Roma itu, violin buatannya dipakai oleh virtuoso abadi, Niccolò Paganini (Cannone Guarnerius – 1743). Yehudi Menuhin juga memiliki “Lord Wilton” ciptaan Guarneri tahun 1742. Masih banyak virtuoso violin yang memakai instrumen ciptaannya, diantaranya Corey Cerovsek, Arthur Grumiaux, Jascha Heifetz, Leonid Kogan, Isaac Stern dan Henryk Szeryng. Violin Guarneri ini hingga merupakan pesaing ketat Stradivarius hingga saat ini.
Sayangnya, sejak dahulu label-label violin tersebut telah mengalami pembajakan serius. Cukup banyak violin-violin yang menggunakan label dari luthier handal, meski pada kenyataannya tidak ada sangkut pautnya dengan luthier tersebut. Namun saking miripnya violin tiruan tersebut dengan aslinya, dibutuhkan keahlian khusus untuk meneliti orisinalitas sebuah violin yang dilabeli luthier ternama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar